CSR, KADO UNTUK BUMI DAN KEHIDUPAN
Alam hanyalah cermin yang mengembalikan apa yang telah diperbuat terhadapnya
Akhir-akhir ini bencana alam datang silih berganti. Tsunami, gempa, longsor, kebakaran, banjir, dan kekeringan seakan begitu setia menemani negeri ini. Sebagian besar bencana ini adalah buah pahit dari benih yang kita tanam kemarin: eksploitasi besar-besaran yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Jika dipikir lebih jernih, bencana ini hanyalah stadium awal dari bencana besar yang akan menimpa bumi dan kehidupan masa depan.
Sungguh memprihatintan apa yang telah kita lakukan selama beberapa dekade terakhir ini terhadap alam. Berdasarkan laporan dari Food and Agriculture Organization (FAO), selama dua dekade terakhir saja laju deforestasi sedikitnya 1,2% pertahun dari luas hutan di Indonesia. Ini setara deangan kehilangan 2,8 juta hektar pe tahun - suatu pembalakan tercepat di dunia.
Kelakuan ini menyebabkan banyak kerugian. Degradasi ekosistem menjadi hal yang tak terhindarkan. Dalam waktu 5 tahun kurang, lahan kritis meningkat hingga 74 juta hektar. Lahan kritis ini menyebabkan rentetan bencana lain: banjir, longsor, kebakaran, kebakaran hutan, dan bahkan kerusakan terumbu karang karena peningkatan material erosi ke laut. Selain itu, secara ekonomi menyebabkan turunnya produktifitas hasil hutan. Pada 2004 produksi kayu bulat tinggal 13,5 juta meter kubik, padahal 7 tahun sebelumnya mencapai 29,5 juta meter kubik.
Jika di telusuri lebih jauh, semua bencana itu bermula pada ketimpangan antara permintaan dan penawaran alam. Berdasarkan laporan yang dirilis World Wild Fund (WWF) International dalam Living Planet Report 2006, Ecological Footprint (tingkat konsumsi) dunia saat ini sudah melebihi biocapasity (kapasitas alam untuk memenuhi kebutuhan konsumsi). Bahkan grafik tingkat konsumsi terus meningkat dari waktu ke waktu sementara kapasitas alam cenderung tetap.
Ecological footprint yang lebih besar dari biocapasity ini menyebabkan 'utang kehidupan' kepada generasi masa depan. Dengan kata lain, tingkat konsumsi generasi saat ini melebihi kemampuan alam dalam memproduksi kebutuhan. Hal ini akan menurunkan kemampuan alam dalam menyediakan kebutuhan konsumsi generasi masa depan. Tanpa sadar kita telah mengambil sebagian hak kehidupan anak cucu kita.
Padahal jika ingin kehidupan ini berkelanjutan, kita tak boleh mengganggu kemampuan generasi masa depan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka (The Brundland Report: 1987). Kalau sudah begitu, tak hanya ekosistem yang akan terancam tidak berkelanjutan, melainkan juga bumi dan semua kehidupan yang melingkupinya.
Ecological footprint yang terus melonjak ini dipicu oleh ukuran perusahaan-perusahaan di dunia yang kian membesar. Perusahaan saat ini mampu melakukan kapasitas produksi berlipat kali lebih banyak dari masa sebelumnya. Seringkali persaingan usaha memaksa mereka melakukan produksi tanpa memikirkan kapasitas alam menyediakan bahan baku dalam jangka panjang.
Maka sudah seharusnyalah semua perusahaan secara proaktif mengambil peran demi terpeliharanya bumi dan kelangsungan kehidupan. Wujud peran dan tanggung jawab itu dapat di realisasikan dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR). Inilah kado untuk memelihara bumi dan kelangsungan kehidupan.
Ada banyak hal yang bisa dilakukan dari CSR ini untuk menjaga bumi dan kehidupan. Secara garis besar fungsi tersebut dibagi menjadi dua yaitu: (a) menurunkan ecological footprint, dan (b) menaikkan biocapasity.
Usaha yang dapat dilakukan untuk menurunkan ecological footprint di antaranya mendukung program untuk menurunkan populasi, serta mendukung dan mengampanyekan efisiensi energi pada industri dan rumah tangga. Selain itu juga menggunakan mesin-mesin yang hemat bahan bakar dan meminimalkan pembuangan limbah deangn peningkatan sistem daur ulang yang efisien. Sedangkan usaha untuk menaikkan biocapasity dapat dilakukan deangan mereklamasi lahan kritis sehingga dapat berfungsi kembali sebagai media produksi tanaman dan pengatur tata air. Selain itu juga dapat dilakukan dengan mendukung riset dan pengembangan teknologi untuk meningkatkan kapasitas alam.
Sudah saatnya dunia mengambil pelajaran dari rentetan bencana yang begitu pahit ini. Pelaksanaan CSR harus dimulai sekarang juga demi terpeliharanya bumi dan kelangsungan kehidupan.
Ditulis oleh: Muhammad Anton Eka Sakti
Pemenang Harapan I Lomba Penulisan Essai Bertema CSR yang diselenggarakan oleh Majalah SWA dan PT Newmont Pacific Nusantara.
Penulis adalah mahasiswa Departemen Metalurgi dan Material, Fakultas Teknik-Universitas Indonesia.
Sumber: Majalah SWA SEMBADA No.13/XXIII/14-27 Juni 2007, halaman 117
Akhir-akhir ini bencana alam datang silih berganti. Tsunami, gempa, longsor, kebakaran, banjir, dan kekeringan seakan begitu setia menemani negeri ini. Sebagian besar bencana ini adalah buah pahit dari benih yang kita tanam kemarin: eksploitasi besar-besaran yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Jika dipikir lebih jernih, bencana ini hanyalah stadium awal dari bencana besar yang akan menimpa bumi dan kehidupan masa depan.
Sungguh memprihatintan apa yang telah kita lakukan selama beberapa dekade terakhir ini terhadap alam. Berdasarkan laporan dari Food and Agriculture Organization (FAO), selama dua dekade terakhir saja laju deforestasi sedikitnya 1,2% pertahun dari luas hutan di Indonesia. Ini setara deangan kehilangan 2,8 juta hektar pe tahun - suatu pembalakan tercepat di dunia.
Kelakuan ini menyebabkan banyak kerugian. Degradasi ekosistem menjadi hal yang tak terhindarkan. Dalam waktu 5 tahun kurang, lahan kritis meningkat hingga 74 juta hektar. Lahan kritis ini menyebabkan rentetan bencana lain: banjir, longsor, kebakaran, kebakaran hutan, dan bahkan kerusakan terumbu karang karena peningkatan material erosi ke laut. Selain itu, secara ekonomi menyebabkan turunnya produktifitas hasil hutan. Pada 2004 produksi kayu bulat tinggal 13,5 juta meter kubik, padahal 7 tahun sebelumnya mencapai 29,5 juta meter kubik.
Jika di telusuri lebih jauh, semua bencana itu bermula pada ketimpangan antara permintaan dan penawaran alam. Berdasarkan laporan yang dirilis World Wild Fund (WWF) International dalam Living Planet Report 2006, Ecological Footprint (tingkat konsumsi) dunia saat ini sudah melebihi biocapasity (kapasitas alam untuk memenuhi kebutuhan konsumsi). Bahkan grafik tingkat konsumsi terus meningkat dari waktu ke waktu sementara kapasitas alam cenderung tetap.
Ecological footprint yang lebih besar dari biocapasity ini menyebabkan 'utang kehidupan' kepada generasi masa depan. Dengan kata lain, tingkat konsumsi generasi saat ini melebihi kemampuan alam dalam memproduksi kebutuhan. Hal ini akan menurunkan kemampuan alam dalam menyediakan kebutuhan konsumsi generasi masa depan. Tanpa sadar kita telah mengambil sebagian hak kehidupan anak cucu kita.
Padahal jika ingin kehidupan ini berkelanjutan, kita tak boleh mengganggu kemampuan generasi masa depan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka (The Brundland Report: 1987). Kalau sudah begitu, tak hanya ekosistem yang akan terancam tidak berkelanjutan, melainkan juga bumi dan semua kehidupan yang melingkupinya.
Ecological footprint yang terus melonjak ini dipicu oleh ukuran perusahaan-perusahaan di dunia yang kian membesar. Perusahaan saat ini mampu melakukan kapasitas produksi berlipat kali lebih banyak dari masa sebelumnya. Seringkali persaingan usaha memaksa mereka melakukan produksi tanpa memikirkan kapasitas alam menyediakan bahan baku dalam jangka panjang.
Maka sudah seharusnyalah semua perusahaan secara proaktif mengambil peran demi terpeliharanya bumi dan kelangsungan kehidupan. Wujud peran dan tanggung jawab itu dapat di realisasikan dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR). Inilah kado untuk memelihara bumi dan kelangsungan kehidupan.
Ada banyak hal yang bisa dilakukan dari CSR ini untuk menjaga bumi dan kehidupan. Secara garis besar fungsi tersebut dibagi menjadi dua yaitu: (a) menurunkan ecological footprint, dan (b) menaikkan biocapasity.
Usaha yang dapat dilakukan untuk menurunkan ecological footprint di antaranya mendukung program untuk menurunkan populasi, serta mendukung dan mengampanyekan efisiensi energi pada industri dan rumah tangga. Selain itu juga menggunakan mesin-mesin yang hemat bahan bakar dan meminimalkan pembuangan limbah deangn peningkatan sistem daur ulang yang efisien. Sedangkan usaha untuk menaikkan biocapasity dapat dilakukan deangan mereklamasi lahan kritis sehingga dapat berfungsi kembali sebagai media produksi tanaman dan pengatur tata air. Selain itu juga dapat dilakukan dengan mendukung riset dan pengembangan teknologi untuk meningkatkan kapasitas alam.
Sudah saatnya dunia mengambil pelajaran dari rentetan bencana yang begitu pahit ini. Pelaksanaan CSR harus dimulai sekarang juga demi terpeliharanya bumi dan kelangsungan kehidupan.
Ditulis oleh: Muhammad Anton Eka Sakti
Pemenang Harapan I Lomba Penulisan Essai Bertema CSR yang diselenggarakan oleh Majalah SWA dan PT Newmont Pacific Nusantara.
Penulis adalah mahasiswa Departemen Metalurgi dan Material, Fakultas Teknik-Universitas Indonesia.
Sumber: Majalah SWA SEMBADA No.13/XXIII/14-27 Juni 2007, halaman 117
Labels: METAL UI


0 Comments:
Post a Comment
<< Home