Tuesday, November 13, 2007

Untuk Renungan : Piring Kayu dan Gelas Bambu

Seorang lelaki tua yang baru ditinggal mati isterinya tinggal bersama anaknya, Arwan dan menantu perempuannya, Rina, serta cucunya, Viva yang baru berusia enam tahun. Keadaan lelaki tua itu sudah uzur, jari-jemarinya senantiasa gemetar dan pandangannya semakin hari semakin buram.

Malam pertama pindah ke rumah anaknya, mereka makan malam bersama. Lelaki tua itu merasa kurang nyaman menikmati hidangan di meja makan. Dia merasa amat canggung menggunakan sendok dan garpu. Selama ini dia gemar bersila, tapi di rumah anaknya dia tiada pilihan. Cukup sukar dirasakannya, sehingga seringkali makanan tersebut tumpah. Sebenarnya dia merasa malu seperti itu di depan anak menantu, tetapi dia gagal menahannya. Oleh karena kerap sekali dilirik menantu, selera makannyapun hilang. Dan tatkala dia memegang gelas minuman, pegangannya terlepas. Praaaaaannnnngggggg!! Bertaburanlah serpihan gelas di lantai.

Pak tua menjadi serba salah. Dia bangun, mencoba memungut serpihan gelas itu, tapi Arwan melarangnya. Rina cemberut, mukanya masam. Viva merasa kasihan melihat kakeknya, tapi dia hanya dapat melihat untuk kemudian meneruskan makannya.

"Besok ayah tak boleh makan bersama kita," Viva mendengar ibunya berkata pada kakeknya, ketika kakeknya beranjak
masuk ke dalam kamar. Arwan hanya membisu. Sempat anak kecil itu memandang tajam ke dalam mata ayahnya.

Demi memenuhi tuntutan Rina, Arwan membelikan sebuah meja kecil yang rendah, lalu diletakkan di sudut ruang makan. Di situlah ayahnya menikmati hidanga n sendirian, sedangkan anak menantunya makan di meja makan. Viva juga dilarang apabila dia merengek
ingin makan bersama kakeknya.

Air mata lelaki tua meleleh mengenang nasibny a diperlakukan demikian. Ketika itu dia teringat kampung halaman yang ditinggalkan . Dia terkenang mendiang isteriny a. Lalu perlahan-lahan dia berbisik: "Miah... buruk benar layanan
anak kita pada abang."

Sejak itu, lelaki tua merasa tidak betah tinggal di situ. Setiap hari dia dihardik karena menumpahkan sisa makanan. Dia diperlakukan seperti budak. Pernah dia terpikir untuk lari dari situ, tetapi begitu dia teringat cucunya, dia pun menahan diri. Dia tidak mau melukai hati cucunya. Biarlah dia menahan diri dicaci dan dihina anak menantu.

Suatu malam, Viva terperanjat melihat kakeknya makan menggunakan piring kayu, begitu juga gelas minuman yang dibuat
dari bambu. Dia mencoba mengingat-ingat, di manakah dia pernah melihat piring seperti itu. "Oh! Ya..." bisiknya. Viva teringat, semasa berkunjung ke rumah sahabat papanya dia melihat tuan rumah itu memberi makan kucing-kucing mereka menggunakan piring yang sama!

"Tidak akan ada lagi yang pecah, kalau tidak begitu, nanti habis piring dan mangkuk ibu," kata Rina apabila anaknya
bertanya.

Waktu terus berlalu. Walaupun makanan berserakan setiap kali waktu makan, tiada lagi piring atau gelas yang
pecah. Apabila Viva memandang kakeknya yang sedang menyuap makanan, kedua-duanya hanya berbalas senyum.

Seminggu kemudian, sewaktu pulang bekerja, Arwan dan Rina terperanjat melihat anak mereka sedang bermain dengan kepingan-kepingan kayu. Viva seperti sedang membuat sesuatu. Ada palu, gergaji dan pisau di sisinya. "Sedang membuat apa sayang? Berbahaya main benda-benda seperti ini," kata Arwan menegur manja anaknya. Dia sedikit heran bagaimana anaknya dapat
mengeluarkan peralatan itu, padahal ia menyimpannya di dalam gudang.

"Mau bikin piring, mangkuk dan gelas untuk Ayah dan Ibu. Bila Viva besar nanti, supaya tak susah mencarinya, tak
usah ke pasar beli piring seperti untuk Kakek," kata Viva.

Begitu mendengar jawaban anaknya, Arwan terkejut. Perasaan Rina terusik. Kelopak mata kedua-duanya basah. Jawaban Viva menusuk seluruh jantung, terasa seperti diiris pisau. Mereka tersentak, selama ini mereka telah berbuat salah !

Malam itu Arwan menuntun tangan ayahnya ke meja makan. Rina menyendokkan nasi dan menuangkan minuman ke dalam gelas.
Nasi yang tumpah tidak dihiraukan lagi. Viva beberapa kali memandang ibunya, kemudian ayah dan terakhir wajah kakeknya. Dia tidak bertanya, cuma tersenyum saja, bahagia dapat duduk bersebelahan lagi dengan kakeknya di meja makan. Lelaki tua itu juga tidak tahu kenapa anak menantunya tiba-tiba berubah .

"Esok Viva mau buang piring kayu dan gelas bambu itu" kata Viva pada ayahnya setelah selesai makan. Arwan hanya
mengangguk, tetapi dadanya masih terasa sesak.

Moral of the story - Hargailah kasih sayang kedua orang tua kita. Bapak Ibu kita hanya satu, setelah meninggal
tidak akan ada pengganti. Jadi, berbaktilah kepada mereka selagi hidup
!

http://www.pondokrenungan.com/
All Right Reserved

Labels:

Your Ad Here

Wednesday, October 03, 2007

PERLUNYA PENGENDALIAN DIRI

Ada seorang pemimpin muda yang sangat mudah sekali marah. Dan ia ingin sekali dapat mengendalikan amarahnya. Ia mendatangi seorang bijak. Diutarakanlah apa yang menjadi maksud kedatangan sang pemimpin itu. Orang bijak tersebut mengangguk-angguk tanda mengerti. Diam sejenak, tangan beliau menggenggam sebuah paku. Baru kemudian beliau berujar supaya pemimpin muda itu dapat mengendalikan rasa amarahnya, dia disarankan untuk menancapkan paku pada sebuah papan. Sang pemimpin muda mengerti saran orang bijak tersebut.

Sesuai anjuran orang bijak tersebut, dia selalu pergi ke belakang kantornya untuk menancapkan sebuah paku setiap kali dia marah. Satu hari tersebut, ternyata dia sudah menancapkan 17 buah paku. Dia sendiri terkejut dengan hal itu. Tetapi tetap saja pemimpin muda itu mengerjakan saran orang bijak dan itu berlangsung selama beberapa bulan. Paku-paku yang dia tancapkan, tidak sama setiap harinya. Terkadang banyak juga tapi di hari lain tidak banyak paku yang dia tancapkan.

Setelah dirasa oleh pemimpin muda itu cukup, pergilah ia menemui orang bijak. Dia ceritakan semua yang telah dia lakukan selama beberapa bulan. Termasuk papan yang telah penuh dengan paku-paku yang ia tancapkan untuk mengalihkan rasa marahnya. Sang orang bijak tersenyum menyikapi cerita pemimpin muda itu. Dengan tenang kemudian beliau berujar, “Engkau sudah berhasil mengendalikan rasa amarahmu. Sekarang tugasmu adalah mencabuti paku-paku yang telah engkau tancapkan tersebut. Satu per satu setiap kali kamu merasa marah.”. Pemimpin muda itu mengerti maksud orang bijak dan kembali ke kediamannya. Pemimpin muda itu benar-benar mempraktikkan saran orang bijak tersebut.

Beberapa waktu berlalu dan tiba saatnya pemimpin muda itu kembali menemui orang bijak. Tidak lupa dia bawa juga papan yang terdapat bekas paku-paku yang telah ia cabuti. Ia tunjukkan papan tersebut pada orang bijak. Kembali orang bijak tersebut tersenyum melihat papan yang ditunjukkan oleh pemimpin muda. Beliau berujar, “Engkau sudah melihat sendiri hasil dari paku yang kautancapkan ketika rasa marahmu datang. Kau lihat lubang bekas paku tersebut. Lubang itu tetap akan berbekas dan tidak hilang. Hal itu sama seperti ketika engkau memarahi seseorang. Rasa sakit yang timbul yang dirasakan oleh orang yang kaumarahi sama seperti lubang paku tersebut. Tetap berbekas dan tidak akan hilang. Walau berapa kali pun engkau meminta maaf pada orang tersebut. Jadikanlah itu pelajaran berharga bagimu.”.

- End of Story -

Jawaban yang saya dapat dari sepenggal mutiara kehidupan tersebut adalah rasa sakit akibat dikecewakan orang lain tetap akan berbekas. Dalam atau tidak, tetaplah meninggalkan bekas. Walau permintaan maaf telah dilontarkan dan terlontar, tetap saja bekas dari rasa sakit itu tetap ada. Alangkah bijaknya bila kita mau berpikir dua kali ketika akan menyakiti orang lain. Perlu diingat, tidak selamanya kita sadar bahwa kita telah menyakiti hati orang lain. Ada kalanya juga secara tidak sengaja kita telah menyakiti hati orang lain. Dan tahukah engkau, rasanya sangatlah tidak nyaman ketika kita menyakiti dan mungkin juga disakiti oleh orang lain. Jadi, sebaiknya jangan mudah membuat orang lain sakit hati karena perilaku kita, baik yang kita sadari maupun tidak.

Labels:

Your Ad Here