Wednesday, January 24, 2007

INDONESIA NEED US$65 BILLION TO BUILD INFRASTUCTURE

The Government of Indonesia (GOI) targets to chalk up an economic growth of 6% per annum, the target could be reaching with the support of adequate infrastructure to facilitate economic development.

Around US$65 billion will be needed to finance several larger infrastructure projects in the country in 2005-2009. Around 38% or US$25 billion of the fund are expected to come from the state budget, US$14 billion from local banks, insurance and pension fund companies, US$10 billion in multilateral and bilateral loans, US$16 billion in investment by the private sector including foreign investors.

The GOI has invited investor to Infrastructure Summits in 2005 and 2006 in Jakarta and offered large infrastructure projects.
The government offered 91 projects valued at US$22.5 billion in 2005 but only five project shave been in the process of construction, 15 projects are to be implemented and 28 in the stage of preparation for tender.

Various problems still come in the way of realizing the projects. The progress made in stabilizing the macro economic indicators including lower inflation rate and credit interest rates gave hope of bringing the projects into reality.

Indonesian Competitiveness Declines

The competitiveness of the country in attracting foreign investors has declined as a result of the infrastructure being not adequately available, whereas the country badly needs foreign investment to boost the economic growth.

Until early 1997, the country's infrastructure grew steadily, investment in infrastructure contributed 6% to the country GDP every year. In the past several years, quantitavely, the country's infrastructure grew sluggishly contributed only 2% to the GDP and qualitatively the sector has contracted.

Time to Build Infrastructure

The end of 2006 was marked with improvement of the macro economic indicators such as fairly strong 5.6% economic growth, lower inflation rate to 8% and Bank Indonesia (Central Bank) benchmark interest rate to 9.75% and the increase in the Jakarta
Composite Share Price Index to a record high of 1,800 points and export value to an all time record of around US$100 billion.
No less important is the appreciation of the rupiah to reach the level of 9,100 per US dollar with foreign exchange reserve exceeding US$40 billion. All the indicators are encouraging contributing to stronger economic fundamentals.

However, the real sector has remained in the doldrums. In the first three quarters, the manufacturing sector grew only by 4.11% down from a growth rate of 6% in 2006or falling far short of target set by the industry minister. The slow revival of the real sector diminished the significance of the real sector is feared to undermine the economic growth in mid and long terms.

The improvement of the macro economic condition provides a good momentum for the government to boost development of infrastructure to attract foreign direct investment to the country.

In addition, the government need remove various other bottlenecks hampering the private sector for taking part in infrastructure development. The government should launch major deregulation measures such as in infrastructure management, land clearing, tariff systems, and tax incentives. Participation of the private sector is absolutely needed with the poor financial condition of the government.

Labels:

Your Ad Here

Friday, January 19, 2007

PANDUAN KESELAMATAN DALAM MENANGANI DAN MEMUSNAHKAN UNGGAS YANG MATI ATAU AKAN MATI

Untuk memperkecil resiko terinfeksi dari unggas yang mati ata akan mati, anggota masyarakat yang menemukan unggas mati sedapat mungkin tidak menangani dan memusnahkan sendiri unggas tersebut.

Apabila anda menemukan unggas yang mati di sekitar anda, anda perlu menghubungi dan memberitahu petugas yang berwenang di wilayah anda.

Untuk daerah DKI Jakarta dan Bali dapat menghubungi;

  • Direktorate Peternakan HOTLINE/ SMS Gateway: 0817 6677161
  • Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Selatan: (021) 727 92545
  • Suku DInas Peternakan Propinsi Bali: (0361) 224184
  • Drh. Eko Hendri Wicaksono, HP 0815 895 9569

Bangkai unggas yang anda temukan harus dikumpulkan dan dibakar secara benar. Jangan mencoba untuk membakarnya sendiri.

Jika tanggapan dari petugas yang berwenang memakan waktu yang lama, langkah-langkah berikut ini adalah cara terbaik untuk proteksi terhadap permukaan terkontaminasi dari binatangnya sendiri.

Sebelum menangani bangkai unggas tersebut, perlu disiapkan alat-alat berikut:

  • Sarung tangan karet tahan air dan sekali pakai.
  • Masker N95 (apabila tidak tersedia, gunakan masker untuk operasi).
  • Celemek plastik sekali pakai.
  • Satu ember air dingin.
  • Cairan pemutih.
  • Handuk sekali pakai yang menyerap air.
  • Kantong plastik yang kuat dan tahan air (tempat penyimpanan yang kuat).
  • Lakban yang kuat untuk menutup kantong plastik tersebut.
  • Alkohol 70%
  • Air mengalir dan sabun.

1. Pencegahan Perorangan

  • Sedapat mungkin hindari kontak langsung dengan bangkai, darah dan cairan unggas.
  • Tutuplah luka pada tangan anda dengan balutan tahan air sebelum anda menggunakan sarung tangan.
  • Gunakan masker N95, celemk plastik dan sarung tangan karet.

2. Penanganan dan Pemusnahan Unggas yang Mati (setelah ini pengetesan lanjutan flu burung tidak dimungkinkan)

  • Lipat keluar 20 cm dari tepi kantong plastik, agar kantong bagian luar tidak terkontaminasi.
  • Campurkan pemutih dan air, dengan perbandingan 1:4, dan rendam handuk yang menyerap air ke dalam cairan tersebut.
  • Kemudian tutuplah bangkai dengan handuk tersebut selama 15 menit.
  • Bungkus bangkai unggas dengan handuk tersebut. Pada saat yang sama bersihkan cairan yang keluar dari unggas tersebut.
  • Masukan bangkai tersebut ke dalam kantong plastik yang kuat.
  • Bersihkan cairan yang tertinggal dengan handuk baru yang menyerap air, dan gantilah handuk tesebut dengan handuk yang lain yang sebelumnya telah direndam ke dalam cairan pemutih dan air. Buanglah handuk yang sudah terpakai ke dalam kantong plastik berisi bangkai tersebut.
  • Lepaskan celemek dan sarung tangan, tanpa menyentuh bagian luar dari sarung tangan tersebut (bagian dalam dari celemek bisa digunakan untuk melepas sarung tangan itu). Kemudian kumpulkan sarung tangan dan celemek tersebut jadi satu ke dalam kantong plastik tadi.
  • Ikat kantong dengan baik, dan masukan ke dalam kantong plastik lainnya (kantong plastik kedua). Ikat kantong plasytik kedua dan rekatkan dengan lakban.
  • Cucilah tangan anda secara menyeluruh dengan air dan sabun, kemudian bersihkan tangan anda deangan larutan alkohol.
  • Kemudian lepaslah masker anda dengan cara menarik talinya (hindari menyentuh bagian filternya), dan buan masker tersebut ke dalam tempat sampah yang tertutup.

  • Sekali lagi cucilah tangan anda lagi secara menyeluruh dengan sabun dan air, dan sesudah itu gunakan alkohol.

3. Pembasmian kuman di lingkungan

Virus influenza H5N1 tetap hidup pada permukaan yang kasar selama kurang lebih 48 jam. Bersihkan dengan benar permukaan yang terkontaminasi kotoran unggas atau cairan yang keluar dari unggas. Pada saat proses pembersihan dilakukan, hindari percikan air atau partikel terkontaminasi.

Sebelum membersihkan permukaan, gunakan masker dan sarung tangan karet yang baru. Bersihkan permukaan terkontaminasi dengan cairan pemutih yang telah dicampur dengan air deangan perbandingan 1:49. Lepaskan dan buang sarung tangan dan masker seperti dalam langkah-langkah yang telah diterangkan pada butir 2 di atas.

4. Pencegahan Tambahan

Segeralah mandi apabila anda terpercik zat-zat yang terinfeksi. Semua ketidak-sengajaan, misalnya tertusuk atau tersayat waktu menangani unggas yang mati atau akan mati harus mendapat perhatian dan dikonsultasikan ke dokter segera mungkin.

Sumber: "Safety guidlines for Protection in Handling and Disposal of Death or Dying Bird"by Uwe Stocker, MD - International SOS Jakarta Indonesia

Labels: , ,

Your Ad Here